Namaku Lindy. Sekarang aku kelas 3 SMA. Aku sekolah di salah satu SMA favorit di kotaku. Sekolahku itu merupakan sebuah sekolah Boarding School. Jadi, aku tinggal di asrama sekolah.
Di sini, di sekolahku ini, aku banyak menemukan hal-hal baru yang tidak pernah aku tau sebelumnya. Pengalaman, berbagai macam karakter Guru dan teman-teman, sahabat, bahkan cinta.
Pada saat aku masih kelas 2.
Di kelasku, aku mengagumi seseorang, namanya Edo. Aku kagum sama dia, tapi aku tidak tau apa yang aku kagumi dari dia. Lambat laun, rasa itupun berubah jadi perasaan yang aku tidak tau apa artinya. Banyak yang mengatakan itu ‘cinta’.
Tadinya aku belum menyadari rasa itu. Padahal, kami selalu bersama. Becanda, tertawa, bahkan masalah pribadi pun diceritakannya. Sampai pada suatu hari, sikapku jadi berubah ke dia. Aku jadi marah kalau dia dekat-dekat sama cewek lain. Dan sepertinya dia menyadari hal itu.
Dan… Betapa bodohnya aku. Sikap dia jadi berubah 100%. Sering marah2, sering mengabaikanku, bahkan dia tidak ingin melihatku lagi yang padahal duduk persis di sampingnya. Aku tidak tau apa yang seharusnya aku lakukan agar dia tetap bersikap seperti dulu. Ini salahku.
Pada hari libur semester, aku mencoba untuk menghubunginya lewat telpon. Dijawab. Bahkan dia lupa sama apa yang telah terjadi. Dia cerita tentang keluarganya, kampung halamannya, dan juga menyanyikan sebuah lagu untukku. Merindukanmu-D'massive. Rasanya seperti mimpi.
Dan benar, itu hanya mimpi. Pada saat libur telah berakhir, aku pikir sikapnya bakalan tetap sama seperti dulu. Tapi tidak. Dia tetap dingin padaku. Seperti biasanya. Aku tidak mengerti dengan sikapnya. Aku hanya cewek lemah. Aku tidak sanggup menahan semua ini. Aku tidak sanggup membendung air mataku yangg siap untuk tumpah.
Detik, menit, jam, hari dan bulan terus berjalan. Aku masih tidak bicara (hanya memilih untuk untuk diam) dengannya. Padahal tempat duduk kami bersebelahan. Aku tidak sanggup lagi. Akhirnya, pada suatu malam, aku tidak sengaja mengirim pesan ke dia. Ternyata dibalas. Kami berbalas pesan sampai pukul 12 malam.
Kira-kira sekitar pukul setengah 11 malam, dia bertanya, “Lin, bener nggak sih apa yang mereka bilang ??”
“Yang mana ??”
“Yang dibilang sama temen-temen deket lo…”
“Memangnya apa yang mereka bilang ? Gue beneran nggak tau...”
“Mmmm.. Tentang itu..”
“Apaan sih, Do ? Nggak usah berbelit2 gitu deh !” Aku mulai emosi.
“Tentang perasaan lo ke gue…”
Zzzzz… Sumpah! Badanku kaku. Aku tak bisa berkata-kata. Akhirnya, setelah aku menceritakan kejadian ini kepada teman sekamarku, aku memberanikan diri.
“Iya…”
“Apa alasan lo bisa suka sama gue ?”
“Memangnya cinta itu butuh alasan ya?”
“Yaa… Nggak juga sih… Makasih ya, tapi kenapa lo cinta sama gue ? Bukannya lo udah punya pacar ?”
“Cuma pelarian doang !”
“WHAAAAATT ?? jangan Lin ! Lo harus bisa nerima dia !”
“Kenapa ? Cinta dan sayang gue tuh cuma buat lo, Do. !!”
Pesanku tidak dibalas lagi. Akhirnya aku kirim ke dia, “Edo, lo tenang aja yaa… Gue nggak sejahat itu kok sama cowok. Sekarang gue lagi coba tanpa lo…”
“Hmmm… Bagus lah.”
“Oya, Lo lagi sakit perut ya ? Tadi gue taunya dari temen sekamar lo…”, aku mengalihkan pembicaraan.
“Iya…”
“Ya udah, sekarang lo istirahat aja. Lagian gue juga udah ngantuk nih.. Moga cepat sembuh ya…”
“Makasi yah!”
Yaaahh… Akhirnya. Terungkap sudah.. Aku menyerah. Walaupun tak terbalas. Biarkan rasa ini tetap abadi dihatiku walaupun dia sama yang lain.
~~end~~
